Seksualitas, kata yang begitu dengan
percintaan di zaman ini. Akan tetapi, bagaimanakah pandangan perempuan pada
seksualitas dan bagaimana mereka merumuskan dirinya dengan hal ini, ini adalah
masalah klasik dalam sejarah manusia.
Seksualitas perempuan biasanya
dipengaruhi oleh lingkungan, rasa dihargai, dan dicintai oleh pasangan.
Walaupun saya bukan seorang perempuan, setidaknya saya memiliki gadget yang bisa diakses untuk mencari
informasi tentang seksualitas ini, So,
jangan berpikiran kalau saya setengah laki-laki dan perempuan, barangkali itu
tidak terjadi dan mungkin iya. Tetapi, alhamdulillah,
tidak. Seksualitas perempuan lebih fleksibel ketimbang laki-laki, itulah kenapa
perempuan tidak memiliki waktu yang tepat untuk dirumuskan kapan ia merasakan
bergairah untuk bercinta. Perempuan akan bergairah tergantung dengan suasana
hati mereka. Maka dari itu, untuk kalian para pria, janganlah mencoba merusak
suasana saat kalian bertemu dengan pasangan kalian. Berbeda dengan laki-laki,
waktu biologisnya cenderung sedrhana karena pria cenderung merasa bergairah
saat pagi hari karena kadar testosterone mencapai puncaknya pada saat pagi
hari, mungkin biasanya dibilang “adik bangun saat pagi hari”.
Dalam penelitian umum, perempuan
rata-rata akan berpikir tentang seks sebanyak 10 kali dalam sehari dan
memikirkan makanan sebanyak 15 kali sehari. Saya pun bingung, kenapa penelitian
ini berujung ke makanan. Mungkin karena zaman ini, trend-nya ODC. Mungkin. Setelah saya googleing ternyata perempuan butuh emosi perasaan untuk
mengaktifkan titik seksualitasnya dan satu hal lagi karena mereka memiliki
stelan otak yang berbeda karena kebiasaan perempuan yang selalu menyiapkan menu
makanan untuk keluarga, itulah alasan mengapa perempuan lebih banyak memikirkan
tentang urusan perut daripada urusan hati, eh
maksudnya Seks.
Tidak semua wanita dapat menikmati
kehidupan seksualnya. Hal ini tampaknya tidak berlaku bagi Seyi Kolade. Mengapa
tidak karena hampir setiap hari perempaun ini berhubungan seks. Kecanduannya
dalam seks itu membuatnya tidur dengan 370 lelaki, hal yang sungguh menggoda
iman, bukan. Ia mulai mengenal seks saat berusia 13 tahun. Sejak usia 17 tahun,
ia sudah mulai ketergantungan tidur dengan pria. Dalam pengakuannya, saat
usianya menginjak 19 tahun ia tidur dengan 40 laki-laki dan bila dihitung
hingga sekarang ini, ia sudah bercinta dengan 370 pria. “Saya kehilangan
keperawanan ketika berusia 13 tahun dengan kekasih pertama saya. Saya terkejut
karena saya hamil dan melahirkan saat saya berusia 14 tahun. Ini adalah waktu
yang sangat sulit,” tuturnya.
Kembali dengan permasalahan awal,
bukan maksud saya ingin menceritakan tentang Seyi Kolade karena membicarakan
dan membuka aib seseorang itu tidak baik. Pendapat saya akan berbeda dengan
teori yang sudah kalian baca di beberapa paragraf awal dan lebih setuju dengan
Seyi karena seorang anak perempuan dalam masa pertumbuhannya diliputi dengan
rasa keingintahuan yang besar terhadap tubuhnya sendiri. Tubuh perempuan itu
memalukan. Pada masa pertumbuhannya ia ingin tahu nama-nama bagian yang ada
pada dirinya dan mengapa alat kelaminnya berbeda dengan anak laki-laki. Ia akan
sulit menemukan maksud dari tubuhnya saat memasuki masa puber, saat ada orang
tua mengajarkannya bahwa tubuh perempuan itu memalukan. Mungkin, ia akan malu
saat bicara mengenai menstruasi atau mengenai seks kepada petugas kesehatan
atau dokter. Bahkan ketika tumbuh deawa dan mulai aktif seksual, ia tidak
memahami mengapa tubuhnya sangat bergairah saat merasakan kenikmatan seksual
atau mengetahui bagaimana cara melindungi tubuhnya dari kehamilan yang tidak
diinginkan atau penyakit menular seksual.
Hal yang sering kali menyebabkan
perempuan frustasi dan menghalanginya untuk lebih maju berkembang adalah
kebahagian perempuan tergantung dengan keberadaan laku-laki. Asumsi ini yang
sering kali digunkan sebagai senjata untuk mengatur kehidupan perempuan dan
bahkan digunakan untuk justifikasi pemerkosaan. Hal ini yang mengartikan bahwa
kebutuhan seks perempuan merupakan hal yang terpenting dan harus terpenuhi.
Ada beberapa anggapan yang sering diberikan
kepada perempuan sehingga merugikan kesehatan seksualitas perempuan. Sebagai
perempuan “baik-baik”, ia akan berpikir tidak akan berinisiatif untuk memulai
berhubungan seks dengan pasangan. Berbicara mengenai seks pada zaman ini hanya
akan menimbulkan pandangan buruk tentang dirinya dan menimbulkan tanggapan
bahwa ia sudah “berpengalaman” dab berarti perempuan nakal.
Memiliki anak perempuan sama seperti
menjadi agen. Tubuh perempuan milik laki-laki. Banyak masyarakat memperlakukan
perempuan seperti barang, saat ia kecil dan belum dipinang oleh seseorang
laki-laki, spenuhnya ia adalah milik orang tuanya dan yang bisa menikahinya
akan menjadi raja dari si perempuan dan akan meminta apa saja yang dikehendaki
oleh Sang Suami. Layaknya sebuah barang, calon suami akan menginginkan calon
isteri yang suci dan belum ternoda sehingga keperawanan menjadi tuntutan dan
tanggung jawab yang sangat besar. Setelah menikah, suami merasa berhak untuk
memanfaatkan tubuh isteri dengan seutuhnya dan mendapatkan kesenangan untuk
memuaskan birahinya. Sang Suami mungkin selingkuh dengan wanita lain, tetapi
isteri hanya melayani satu laki-laki saja (suami). Akan tetapi, laki-laki tidak
tidak seharusnya memiliki tubuh perempuan karena tubuhnya adalah miliknya
sendiri dan ia berhak memutuskan bagaimana, kapan, dan dengan siapa saja ingin
berbagi. Hal ini saya tidak setuju, karena sebuah hubungan suami isteri harus
dilandasi dengan kesetiaa, agar hal tersebut tidak terjadi.
Baru-baru ini, Badan Penelitian
Kesehatan Masyarakat Barcelona, menganalisa 9850 pria dan wanita. Hasilnya 90%
pria dan wanita mengaku sangat puas atau cukup puas dengan kehidupan seks
mereka secara umum. Sementara 95% merasa puas dengan kehidupan seks di tahun
sebelumnya. Hal i ni disebabkan faktor sosial ekonomi, ini sangat berlaku bagi
perempuan. Para perempuan dengan sosial ekonomi tinggi dan menengah memiliki
kepuasan terhadap kehidupan seksualitasnya. Sebaliknya, wanita dari status
ekonomi rendah kerap merasakan ketidakpuasan dalam berhubungan seks. Hal ini
disebabkan, bagaimana bisa memikirkan orgasme sementara bingung esok pagi tidak
ada beras yang bisa dimasak atau tidak memiliki uang untuk membayar kontrakan
rumah. Banyak orang-orang yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah
cenderung memiliki hubungan seksualitas yang kurang memuaskan dan aman, serta
menderita pengalaman pelecehan seksual lebih besar.
http://inilah.com/read/detail/2065383/perempuan-sejahtera-memiliki-seks-memuaskan
http://ithinkeducation.blogspot.com/2014/02/mitos-yang-merugikan-seksualitas.html?m=1
No comments:
Post a Comment