Thursday, October 24, 2013

Jangan lupa untuk bahagia yaah.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Sedangkan di wilkipedia, ketika bahagia itu mendapat imbuhan ke-, memiliki arti suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan.

Kedua arti itu benar. Akan tetapi, bagaimanakah cara untuk menciptakan kebahagiaan? Bahagia dan kebahagiaan itu tidak datang dari suatau hal yang berada di luar tubuh kita. Kebahagiaan datang dari diri kita sendiri. Manusia itu sendirilah yang menciptakan kebahagiaan. Banyak orang mencoba untuk menghibur sesorang lainnya yang sedang sedih. Lalu, orang bersedih itu bahagia. Ia bahagia bukan dari seseorang yang menghibur itu. Akan tetapi, dari sesorang yang merasa sedih teraebutlah yang menciptakan kebahagiaan.

Di saat kita sedih, maka ciptakanlah bahagia. Berpikir secara positif tentang bahagia. Bukan, menggunakan narkoba dan alkohol untuk dapat menciptakan bahagia. Tetapi, dari pikiran positif dan hati yang menciptakan bahagia. Jangan menunggu kapan harus berbahagia. Kapan pun dan di mana pun dapat dicoptakan bahagia. Dengan berpikir positif atau berpikir santai tentang bahagia. Maka perasaan sedih pun akan menghilang sedikit demi sedikit. Bahagia itu sederhana, cukup dengan pikiran yang positif lalu dijernihkan di hati. Maka suasana hati dan pikiran akan terasa indah dan bahagia.

Untuk seseorang yang sedang sedih. Janganlah, berlarut dalam kesedihan. Memang, melankolis itu sungguh indah, meratapai kesedihan secara menyeluruh hingga menyayat hati. Akan tetapi, itu dapat membuat kita tidak percaya diri, lelah, dsb. Cobalah untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.

Jangan lupa untuk bahagia yaah.

Wednesday, October 9, 2013

Aku berdosa dan aku bahagia.

Selagi masih pagi. Masih tetap ingin dalam kebahagian. Yesterday.


Kamu yang tidak tahu apa isi di balik tempurung kepala ini. Dalam kekosongan, aku menikmati senyummu. Diam, tak terucap sepatah kata dalam tatap mata. Aku mencuri pandangan, aku berdosa tak mengakuinya. Aku berdosa dan aku bahagia. Terdampar di sebuah harapan. Tidak tahu besar atau tidak ya. Barangkali, ini sebuah asmara. Membawa kebahagian dalam diam. Begitu indah untuk dirasakan. Berfantasi dalam kebahagian.

Sepi

Sendiri, melihat sesutu yang kosong. Sepi.

Saturday, September 28, 2013

Suara Musisi Jalanan

Oxiel, pria kelahiran Jakarta, 22 November 1982. Salah satu dari sekian banyak musisi jalanan di tanah air. Ia adalah seseorang pengamen dengan alat musik biola di daerah Depok. Pria ini sudah mulai menjadi musisi jalanan sejak tahun 1998-2003, pada tahun 2004-2010, berkerja menjadi crew film di televisi swasta. Lalu, ia memilih recent dari tempat kerjanya dan membuka usaha. Saat ia menekuni sebagai wirausaha, ia sedikit merasa jenuh dan memilih mengamen untuk menghilangkan kejenuhannya dan tetap menjadi seorang wirausaha.

Selain itu, ia dan teman-teman musisi jalanan lainnya membuat sebuah perkumpulan yang berbasiskan kekeluargaan. Dalam perkumpulan itu, mereka saling mengajarkan bermain alat musik biola. Mereka biasa mengamen di Jl. Margonda Raya, tepatnya di putaran balik depan Margonda Residence. Biasanya, mulai dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 21.00, terkadang tergantung kondisi lalu lintas, macat atau tidaknya. "Kami memiliki sistem tersendiri dalam mengamen, saling bergantian setiap satu jam setengah" ujar Oxiel.

Perkumpulan mereka tak hanya mengamen saja, sering juga mengisi acara nonton bareng dan live music di sebuah cafe. "Untuk ikut gabung sama kita tidak perlu memiliki alat musik biola, cukup bermodalkan niat yang tulus kami akan mengajarkan dengan memijamkan biola kami, serta kita belajar bareng, untuk pertama kita akan melatih mentak untuk berani turun ke jalan, kalau sudah matang akan diajak untuk pementasan" tutup Oxiel.

Wednesday, September 11, 2013

Untuk Gadis Dengan Senyum Manis

Jujur, aku tak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti ini. Bukan berarti aku tak menginginkanmu, justru aku inginkan dirimu seutuhnya. Akan tetapi, keadaan membuat aku harus merelakan semua.

Kejadian waktu itu, di saat kita menikmati senja, begitu lembut dan indah. Mungkin, jika saja aku tahu kalau kelanjutan ceritanya akan seperti ini, aku tak akan rela bila sore itu harus berlalu.

Dalam diam, aku menyimpan sebuah rahasia. Dalam dekap kedua bola mata, aku memerhatikan dirimu. Dalam bisu, aku menyembut namamu. Dalam tuli, aku mendengar suaramu.

Jika memang harus seperti ini, biarlah, aku rela.

Tuesday, September 10, 2013

Kode Etik Penyuntingan

Dalam penyuntingan naskah ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi bersama yang dinamakan kode etik. Pada hal ini, terdapat enam kode etik, yaitu sebagai berikut.

1. Penyunting wajib mencari informasi mengenai penulis naskah sebelum melakukan penyuntingan naskah.

2. Penyunting bukan penulis.

3. Penyunting naskah wajib menghormati gaya penulis naskah.

4. Penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.

5. Penyunting naskah wajib berkoordinasi dengan penulis tentang hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah.

6. Penyunting naskah dilarang menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau sudah disunting.

Monday, September 9, 2013

Melankolis

Di sela senja, ada rintik hujan yang mengiringi kerinduan. Aku benci suasana seperti ini, engkau yang melihat seakan buta oleh keadaan. Suasana yang seharusnya riang, menjadi melankolis. Aku terdiam, membayangi dirimu datang kepelukannku, berharap ada celah kerinduan yang akan kita isi dengan pertemuan. Menikmati keindahan alam yang luas ini, menjelajahi Samudera Asmara, berdua.