Saturday, September 28, 2013

Suara Musisi Jalanan

Oxiel, pria kelahiran Jakarta, 22 November 1982. Salah satu dari sekian banyak musisi jalanan di tanah air. Ia adalah seseorang pengamen dengan alat musik biola di daerah Depok. Pria ini sudah mulai menjadi musisi jalanan sejak tahun 1998-2003, pada tahun 2004-2010, berkerja menjadi crew film di televisi swasta. Lalu, ia memilih recent dari tempat kerjanya dan membuka usaha. Saat ia menekuni sebagai wirausaha, ia sedikit merasa jenuh dan memilih mengamen untuk menghilangkan kejenuhannya dan tetap menjadi seorang wirausaha.

Selain itu, ia dan teman-teman musisi jalanan lainnya membuat sebuah perkumpulan yang berbasiskan kekeluargaan. Dalam perkumpulan itu, mereka saling mengajarkan bermain alat musik biola. Mereka biasa mengamen di Jl. Margonda Raya, tepatnya di putaran balik depan Margonda Residence. Biasanya, mulai dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 21.00, terkadang tergantung kondisi lalu lintas, macat atau tidaknya. "Kami memiliki sistem tersendiri dalam mengamen, saling bergantian setiap satu jam setengah" ujar Oxiel.

Perkumpulan mereka tak hanya mengamen saja, sering juga mengisi acara nonton bareng dan live music di sebuah cafe. "Untuk ikut gabung sama kita tidak perlu memiliki alat musik biola, cukup bermodalkan niat yang tulus kami akan mengajarkan dengan memijamkan biola kami, serta kita belajar bareng, untuk pertama kita akan melatih mentak untuk berani turun ke jalan, kalau sudah matang akan diajak untuk pementasan" tutup Oxiel.

Wednesday, September 11, 2013

Untuk Gadis Dengan Senyum Manis

Jujur, aku tak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti ini. Bukan berarti aku tak menginginkanmu, justru aku inginkan dirimu seutuhnya. Akan tetapi, keadaan membuat aku harus merelakan semua.

Kejadian waktu itu, di saat kita menikmati senja, begitu lembut dan indah. Mungkin, jika saja aku tahu kalau kelanjutan ceritanya akan seperti ini, aku tak akan rela bila sore itu harus berlalu.

Dalam diam, aku menyimpan sebuah rahasia. Dalam dekap kedua bola mata, aku memerhatikan dirimu. Dalam bisu, aku menyembut namamu. Dalam tuli, aku mendengar suaramu.

Jika memang harus seperti ini, biarlah, aku rela.

Tuesday, September 10, 2013

Kode Etik Penyuntingan

Dalam penyuntingan naskah ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi bersama yang dinamakan kode etik. Pada hal ini, terdapat enam kode etik, yaitu sebagai berikut.

1. Penyunting wajib mencari informasi mengenai penulis naskah sebelum melakukan penyuntingan naskah.

2. Penyunting bukan penulis.

3. Penyunting naskah wajib menghormati gaya penulis naskah.

4. Penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.

5. Penyunting naskah wajib berkoordinasi dengan penulis tentang hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah.

6. Penyunting naskah dilarang menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau sudah disunting.

Monday, September 9, 2013

Melankolis

Di sela senja, ada rintik hujan yang mengiringi kerinduan. Aku benci suasana seperti ini, engkau yang melihat seakan buta oleh keadaan. Suasana yang seharusnya riang, menjadi melankolis. Aku terdiam, membayangi dirimu datang kepelukannku, berharap ada celah kerinduan yang akan kita isi dengan pertemuan. Menikmati keindahan alam yang luas ini, menjelajahi Samudera Asmara, berdua.

Monday, August 19, 2013

Jika Asa Tak Bertuan

Dia, seseorang yang membuat harimu terasa lebih indah. Membuatmu merasa akan sebuah arti cinta, merajut asa menggapai bintangbdi langit yang gemerlapan. Dibalik asaku, ternyata tersimpan berjuta kepedihan. Kepasrahan yang harusnya tersadari sejak awal. Memang, tak ada yang lebih indah selain membicarakan cinta di malam hari, di bawah sinar rembulan. Begitu lembut, harmonis di dalam rasa. Akan tetapi, apa yang harus kau lakukan. Bila ternyata bunga yang kau kagumi dan kau hayalakan, dipetik oleh pemuda yang sedang berjalan di sebuah penakaran bunga itu. Memang bukan salah, Sang Bunga Mawar yang memiliki tangkai berduri, tapi apakah ini salah pemuda itu? Bukan, tak ada yang salah dalam menjalani cinta. Hanya saja, tak berani untuk memetik bunga itu karena takut, bila nanti bunga itu terluka dan patah begitu saja. Memang awal itu sungguh indah. Akan tetapi, adakah bedanya saat kita berjumpa dengan kita berpisah. Sama-sama indah, penuh harapan meskipun hancur. Justru, itulah keindahan yang harus dirasakan oleh setiap pendamba. Melankolis di malam hari, tanpa asa, hanya ada kerisauan yang setiap helaannya menyayat hati. Haruskah aku katakan, bahwa bercerita yang bukan tentang kita itu mengasyiksn? Entahlah..

Tuesday, August 13, 2013

Lembaran Cinta Yang Sirna

Bintan tak lagi bersinar
Aku kini sendiri
Mengobati luka yang kau beri
Sebagai tanda perpisahan

Sang Camar puas menertawaiku
Di atas sampan tua
Kau beri aku noda hitam di pipi
Sukar tuk kuhapus sendiri

Hilang arah tujuan
Tak tahu kemana harus berlabuh
Tersapu ombak, menabrak karang
Kini aku sendiri

Di pinggiran pantai, ku berjalan
Memumunguti serpihan cinta
Membersihkan noda darah
Mengalir dari luka di dada

Hancur! Semua asaku!
Ku berikan kau intan permata
Kau balas dengan batu karang
Kini, aku sendiri, menyendiri!

Tuesday, August 6, 2013

Kebosanan

Malam kelabu, mungkinkah ada sebuah keajaiban yang dapat merubah pahit menjadi manis?
Hati ini terasa begitu kelam tak tentu arah. Bercanpur aduk antara kesedihan dan kebahagian. Banyak orang berkata bahwa cinta dapat merubah segalanya, bahkan merubah keruh menjadi jernih. Akan tapi, apakah yang dapat dilakukan cinta bila cinta hanya bertepuk sebelah tangan. Sakit, begitu dalam yang kurasakan. Ku biarkan Sang Camar mentertawaiku sepuasnya hingga ia bosan tertawa di atas kesedihan ini. Oh, mutiara hati, aku begitu mengininginkan tetapi aku tak mampu untuk berjuang. Aku merasa lemah tak berdaya, ku akui aku bukanlah seseorang yang engkau harapkan. Mata berdebu, merah terselimuti air.