Monday, September 9, 2013

Melankolis

Di sela senja, ada rintik hujan yang mengiringi kerinduan. Aku benci suasana seperti ini, engkau yang melihat seakan buta oleh keadaan. Suasana yang seharusnya riang, menjadi melankolis. Aku terdiam, membayangi dirimu datang kepelukannku, berharap ada celah kerinduan yang akan kita isi dengan pertemuan. Menikmati keindahan alam yang luas ini, menjelajahi Samudera Asmara, berdua.

Monday, August 19, 2013

Jika Asa Tak Bertuan

Dia, seseorang yang membuat harimu terasa lebih indah. Membuatmu merasa akan sebuah arti cinta, merajut asa menggapai bintangbdi langit yang gemerlapan. Dibalik asaku, ternyata tersimpan berjuta kepedihan. Kepasrahan yang harusnya tersadari sejak awal. Memang, tak ada yang lebih indah selain membicarakan cinta di malam hari, di bawah sinar rembulan. Begitu lembut, harmonis di dalam rasa. Akan tetapi, apa yang harus kau lakukan. Bila ternyata bunga yang kau kagumi dan kau hayalakan, dipetik oleh pemuda yang sedang berjalan di sebuah penakaran bunga itu. Memang bukan salah, Sang Bunga Mawar yang memiliki tangkai berduri, tapi apakah ini salah pemuda itu? Bukan, tak ada yang salah dalam menjalani cinta. Hanya saja, tak berani untuk memetik bunga itu karena takut, bila nanti bunga itu terluka dan patah begitu saja. Memang awal itu sungguh indah. Akan tetapi, adakah bedanya saat kita berjumpa dengan kita berpisah. Sama-sama indah, penuh harapan meskipun hancur. Justru, itulah keindahan yang harus dirasakan oleh setiap pendamba. Melankolis di malam hari, tanpa asa, hanya ada kerisauan yang setiap helaannya menyayat hati. Haruskah aku katakan, bahwa bercerita yang bukan tentang kita itu mengasyiksn? Entahlah..

Tuesday, August 13, 2013

Lembaran Cinta Yang Sirna

Bintan tak lagi bersinar
Aku kini sendiri
Mengobati luka yang kau beri
Sebagai tanda perpisahan

Sang Camar puas menertawaiku
Di atas sampan tua
Kau beri aku noda hitam di pipi
Sukar tuk kuhapus sendiri

Hilang arah tujuan
Tak tahu kemana harus berlabuh
Tersapu ombak, menabrak karang
Kini aku sendiri

Di pinggiran pantai, ku berjalan
Memumunguti serpihan cinta
Membersihkan noda darah
Mengalir dari luka di dada

Hancur! Semua asaku!
Ku berikan kau intan permata
Kau balas dengan batu karang
Kini, aku sendiri, menyendiri!

Tuesday, August 6, 2013

Kebosanan

Malam kelabu, mungkinkah ada sebuah keajaiban yang dapat merubah pahit menjadi manis?
Hati ini terasa begitu kelam tak tentu arah. Bercanpur aduk antara kesedihan dan kebahagian. Banyak orang berkata bahwa cinta dapat merubah segalanya, bahkan merubah keruh menjadi jernih. Akan tapi, apakah yang dapat dilakukan cinta bila cinta hanya bertepuk sebelah tangan. Sakit, begitu dalam yang kurasakan. Ku biarkan Sang Camar mentertawaiku sepuasnya hingga ia bosan tertawa di atas kesedihan ini. Oh, mutiara hati, aku begitu mengininginkan tetapi aku tak mampu untuk berjuang. Aku merasa lemah tak berdaya, ku akui aku bukanlah seseorang yang engkau harapkan. Mata berdebu, merah terselimuti air. 

Wednesday, July 17, 2013

Dewabrata Dua

Ada baiknya kita tidak berbicara tentang cinta agar senja tetap dalam keelokannya. Singkirkan beban yang menindih ini dengan berkaca pada senyum daun ketapang di taman itu yang dulu menjadi saksi pertemuan kita. Kadang kita terjaring oleh percakapan semu. Bahkan kita habiskan waktu dalam perdebatan panjang tak berkesudahan, sementara kita abai pada kemolekan langit senja di cakrawala. Mengapa cinta harus diuji atau ditakar dengan kata-kata. Kautahu, begitu ulet dan liat cinta kita bagai benang dilulur malam. Barangkali kau lupa bahwa cinta tak harus dinyatakan dalam kata-kata indah yang dibisikkan atau kalimat tegas yang diteriakkan. Sesungguhnya cinta bertakhta di hati yang boleh jadi hadir dalam kerling mata, engah nafas, denyut nadi, atau bahkan dalam peluh dan aroma tubuh. Mari kita nikmati senja tanpa kata.

Dewabrata

Telah kuserahkan cintaku padamu sepenuhnya. Jika ada yang belum sampai padamu barangkali itu hanya soal waktu. Kautahu air yang mengalir dari kali di samping rumahmu itu takkan sampai di laut dalam satu waktu, bukan. Barangkali sudah saatnya kauyakini bahwa arah akan tetap setia pada tiup angin. Meski pelik, cinta niscaya bukan teka-teki. Pada gerimis senja ini biarlah goyang daun ketapang di taman itu menjadi saksi bahwa cintaku tetap mengalir menujumu. Semoga kaurasakan hangatnya meski kau berada jauh di sudut sana. Barangkali jarak memang ditadirkan tetap ada untuk mengekalkan cinta kita.

Tuesday, July 2, 2013

Sunyi dan kelam

Aku serpihan kertas yang terbang terbawa angin
Kau meniupku, mencaciku
Mungkin ini akhir dari kehidupan
Cahaya tak terlihat terang

Redup sang surya membungkam mulutku
tak terucap, untaian kata dibawah daun gugur

Sepi, suasana hati
Terkoyak angin
Tersapu ombak di laut
Terbakar api asmara

Sunyi dan kelam
Mampus! aku dimakan sepi!